Kelompok 1

Kelompok 1
sumber gambar: static.wixstatic.com

Rabu, 16 September 2015

Lanskap Media di Indonesia

Kelas dibuka dengan menonton video mengenai media di Indonesia yang semakin berkembang. Di jelaskan oleh pembicara bahwa dulu media dikontrol oleh pemerintah. Tidak semua informasi terbuka untuk umum, sehingga masyarakat memiliki akses yang sangat terbatas terhadap informasi karena media memiliki berita yang sangat terbatas dan kebanyakan hanya berisi agenda pemerintah. Pada tahun 1998, “reformasi” menjadi titik balik kebebasan pers di Indonesia, bisnis mediapun mulai berkembang. Pertumbuhan industri media di Indonesia telah didorong oleh kepentingan modal, yang mengarah ke media oligopoly dan konsentrasi kepemilikan. Kemajuan dalam media da teknologi komunikasi telah mengubah lingkungan industri media tetapi tetap membuka ruang yang lebih luas bagi warga negara untuk berpatisipasi dalam media melalui internet dan media sosial.
Di bahas juga mengenai konvergensi media yakni tentang teknologi dan komunikasi. Banyak orang menyebut era ini sebagai era konvergensi media, dugaan pembicara, hal tersebut merujuk pada perkembangan teknologi komunikasi digital yang ada, khususnya karena keberadaan internet.  Perkembangan teknologi komunikasi digital dewasa ini telah menjadi salah satu fokus penelitian para pakar komunikasi karena merubah pola komunikasi linier yang ada. Ia telah berdampak juga terhadap produksi pesan, pengelolaan konten, dan distribusi pesan melalui digitalisasi. 
Definisi konvergensi menurut August E. Grant dalam pengantar bukunya yang berjudul Understanding Media Convergence; The State of the Field (2009), konvergensi sangat erat kaitannya dengan bidang jurnalisme. Kenapa? Grant menghubungkannya dengan perubahan (change). Perubahan adalah bagian yang tak terpisahkan dari ruang berita (news room). Semakin besar perubahan dan semakin jauh perubahan tersebut dari ekspektasi, maka headline yang akan tercipta akan semakin besar juga.
Untuk itu, perubahan yang tak dapat dielakkan tersebut menuntut ruang berita untuk selalu berinovasi. Selain dituntut untuk menyajikan berita yang lebih cepat, jurnalis juga dituntut untuk menghadirkan berita yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Internet adalah salah satu perkembangan teknologi yang mengubah ruang berita. Ia mampu memungkinkan informasi didapat dan disebarluaskan secara cepat. Akhirnya, perkawinan antara media konvensional dengan media baru tersebut mampu menghasilkan sistem kerja dan pengolahan berita yang baru.
Beberapa peneliti mencoba mendefinisikan istilah konvergensi, namun diantara mereka tidak disepakati definisi tunggal tentang apa itu yang dinamakan konvergensi. Kutipan Justice Potter Stewart dalam bukuUnderstanding Media Convergence; The State of the Field (2009) mengatakan “I can’t define it, but I know it when I see it”, Sedangkan Jim Carrol dalam buku yang sama menjelaskan istilah konvergensi dengan perumpamaan teenage sex sebagai berikut;
a)      Tidak ada yang tahu apa itu tetapi berpikir bahwa itu adalah hal hebat,
b)      Semua orang berpikir bahwa setiap orang melakukan itu,
c)       Mereka yang berkata bahwa mereka melakukan itu mungkin saja berbohong,
d)      Sedikit orang yang melakukan itu tidak melakukan itu dengan baik,
e)      Once they start doing it, they realize that it’s going to take them a long time to do it right,
f)       Mereka juga akan mulai menyadari bahwa tidak ada cara yang ‘benar’ untuk melakukan itu.

Dari sisi konvergensi jurnalisme, kini kita mengenal berbagai organisasi media yang mulai melebarkan jangkauan informasinya dengan memiliki sebuah ruang berita baru di dunia maya atau media online. Banyak organisasi media yang mendistribusikan konten mereka dari media konvensional seperti TV, radio, dan media cetak ke media online. 

Dengan adanya media online, masing-masing organisasi akan dapat meningkatkan kapasitasnya. Semisal media cetak, dengan memiliki media online ia dapat mengolah beritanya menjadi video, galeri foto, dan ruang berita yang lebih luas dibandingkan versi cetak. Selain meningkatkan kapasitasnya, masing-masing dari organisasi itu juga dapat meningkatkan interaktivitas dengan pembaca, misalnya dengan memberi ruang komen, blog, hyperlink, dan sebagainya.
Dimensi lainnya dari konvergensi media ialah mengenai kepemilikan (ownership). Konvergensi memungkinkan terjadinya kepemilikan dua atau lebih media dalam melayani satu kesatuan pasar yang sama. Isu inilah yang sangat dekat dengan kondisi industri media di Indonesia, dimana kepemilikan terhadap dua atau lebih jenis media sangat dimungkinkan. Contohnya MNC Grup yang dimiliki oleh Hary Tanoesoedibjo. Ia berhasil  merajai tidak hanya pasar media cetak, melainkan juga memiliki media siar dan online yang cukup besar dan berpengaruh secara nasional di Indonesia.
Konvergensi juga memungkinkan terjadinya kolaborasi. Dewasa ini, kebanyakan organisasi media besar cenderung melakukan kolaborasi atau kerjasama dengan sesama media besar lainnya dibanding melihat hal tersebut sebagai ancaman atau kompetitor.

Hubungan kolaboratif harus saling menguntungkan untuk bertahan. Kekuatan eksternal juga berdampak pada awal dan akhir dari upaya kolaboratif tersebut, hal ini termasuk dari tujuan korporasi dan tawaran dari kompetisi. Untuk mencegahnya dari kecenderungan monopoli, hal ini dapat dicegah dengan adanya pengaturan atau regulasi.
Kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan ini bahwa media selalu berkembang mengikuti perkembangan jaman, media di era modern menjadi lebih spesifik dibandingkan media lama, hal ini dikarenakan berkembangnya pula bisnis media memberikan tuntutan pada pemilik media sehingga lahirlah media yang memiliki target spesifik dalam memudahkan pemasangan iklan di media. Iklan sangat berpotensi sebagai sarana kelangsungan hidup suatu media.
   Selain media dampak yang dirakan perkembangannya juga merambat pada pelaku jurnalis sehingga kini para jurnalis lebih inovatif dibandingankan dahulu kala dimana perangkat yang harus digunakan dalam melakukan suatu wawancara atau melaksanakan suatu liputan membutuhkan banyak perangkat seperti handphone, voice recorder, buku tulis, alat tulis, camera person, dan seterusnya. Tetapi jurnalis modern kini lebih terbantu dengan menggunakan satu perangkat yaitu smartphone yang memudahkan proses wawancara maupun peliputan yang dapat dilakukan seorang jurnalis/wartawan seorang diri saja tanpa membutuhkan pendamping dapat langsung melaksanakan liputan secara live dengan perangkat smartphone secara online.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar