Kelas dibuka dengan menonton video
mengenai media di Indonesia yang semakin berkembang. Di jelaskan oleh pembicara
bahwa dulu media dikontrol oleh pemerintah. Tidak semua informasi terbuka untuk
umum, sehingga masyarakat memiliki akses yang sangat terbatas terhadap
informasi karena media memiliki berita yang sangat terbatas dan kebanyakan
hanya berisi agenda pemerintah. Pada tahun 1998, “reformasi” menjadi titik
balik kebebasan pers di Indonesia, bisnis mediapun mulai berkembang.
Pertumbuhan industri media di Indonesia telah didorong oleh kepentingan modal,
yang mengarah ke media oligopoly dan konsentrasi kepemilikan. Kemajuan dalam
media da teknologi komunikasi telah mengubah lingkungan industri media tetapi
tetap membuka ruang yang lebih luas bagi warga negara untuk berpatisipasi dalam
media melalui internet dan media sosial.
Di bahas juga mengenai konvergensi
media yakni tentang teknologi dan komunikasi. Banyak orang menyebut era ini
sebagai era konvergensi media, dugaan pembicara, hal tersebut merujuk pada
perkembangan teknologi komunikasi digital yang ada, khususnya karena keberadaan
internet. Perkembangan teknologi
komunikasi digital dewasa ini telah menjadi salah satu fokus penelitian para
pakar komunikasi karena merubah pola komunikasi linier yang ada. Ia telah
berdampak juga terhadap produksi pesan, pengelolaan konten, dan distribusi
pesan melalui digitalisasi.
Definisi konvergensi menurut August E.
Grant dalam pengantar bukunya yang berjudul Understanding Media
Convergence; The State of the Field (2009), konvergensi sangat erat
kaitannya dengan bidang jurnalisme. Kenapa? Grant menghubungkannya dengan
perubahan (change). Perubahan adalah bagian yang tak terpisahkan dari ruang
berita (news room). Semakin besar perubahan dan semakin jauh perubahan tersebut
dari ekspektasi, maka headline yang akan tercipta akan semakin besar juga.
Untuk itu, perubahan yang tak dapat
dielakkan tersebut menuntut ruang berita untuk selalu berinovasi. Selain
dituntut untuk menyajikan berita yang lebih cepat, jurnalis juga dituntut untuk
menghadirkan berita yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Internet adalah
salah satu perkembangan teknologi yang mengubah ruang berita. Ia mampu
memungkinkan informasi didapat dan disebarluaskan secara cepat. Akhirnya,
perkawinan antara media konvensional dengan media baru tersebut mampu
menghasilkan sistem kerja dan pengolahan berita yang baru.
Beberapa peneliti mencoba
mendefinisikan istilah konvergensi, namun diantara mereka tidak disepakati
definisi tunggal tentang apa itu yang dinamakan konvergensi. Kutipan Justice
Potter Stewart dalam bukuUnderstanding Media Convergence; The State of the
Field (2009) mengatakan “I can’t define it, but I know it when I see it”,
Sedangkan Jim Carrol dalam buku yang sama menjelaskan istilah konvergensi dengan
perumpamaan teenage sex sebagai berikut;
a) Tidak
ada yang tahu apa itu tetapi berpikir bahwa itu adalah hal hebat,
b) Semua
orang berpikir bahwa setiap orang melakukan itu,
c) Mereka
yang berkata bahwa mereka melakukan itu mungkin saja berbohong,
d) Sedikit
orang yang melakukan itu tidak melakukan itu dengan baik,
e) Once
they start doing it, they realize that it’s going to take them a long time to
do it right,
f) Mereka
juga akan mulai menyadari bahwa tidak ada cara yang ‘benar’ untuk melakukan
itu.
Dari sisi konvergensi jurnalisme, kini
kita mengenal berbagai organisasi media yang mulai melebarkan jangkauan
informasinya dengan memiliki sebuah ruang berita baru di dunia maya atau media
online. Banyak organisasi media yang mendistribusikan konten mereka dari media
konvensional seperti TV, radio, dan media cetak ke media online.
Dengan adanya media online,
masing-masing organisasi akan dapat meningkatkan kapasitasnya. Semisal media
cetak, dengan memiliki media online ia dapat mengolah beritanya menjadi video,
galeri foto, dan ruang berita yang lebih luas dibandingkan versi cetak. Selain
meningkatkan kapasitasnya, masing-masing dari organisasi itu juga dapat
meningkatkan interaktivitas dengan pembaca, misalnya dengan memberi ruang
komen, blog, hyperlink, dan sebagainya.
Dimensi lainnya dari konvergensi media
ialah mengenai kepemilikan (ownership). Konvergensi memungkinkan terjadinya
kepemilikan dua atau lebih media dalam melayani satu kesatuan pasar yang sama.
Isu inilah yang sangat dekat dengan kondisi industri media di Indonesia, dimana
kepemilikan terhadap dua atau lebih jenis media sangat dimungkinkan. Contohnya
MNC Grup yang dimiliki oleh Hary Tanoesoedibjo. Ia berhasil merajai tidak
hanya pasar media cetak, melainkan juga memiliki media siar dan online yang
cukup besar dan berpengaruh secara nasional di Indonesia.
Konvergensi juga memungkinkan
terjadinya kolaborasi. Dewasa ini, kebanyakan organisasi media besar cenderung
melakukan kolaborasi atau kerjasama dengan sesama media besar lainnya dibanding
melihat hal tersebut sebagai ancaman atau kompetitor.
Hubungan kolaboratif harus saling
menguntungkan untuk bertahan. Kekuatan eksternal juga berdampak pada awal dan
akhir dari upaya kolaboratif tersebut, hal ini termasuk dari tujuan korporasi
dan tawaran dari kompetisi. Untuk mencegahnya dari kecenderungan monopoli, hal
ini dapat dicegah dengan adanya pengaturan atau regulasi.
Kesimpulan yang dapat diambil dari
pembahasan ini bahwa media selalu berkembang mengikuti perkembangan jaman,
media di era modern menjadi lebih spesifik dibandingkan media lama, hal ini
dikarenakan berkembangnya pula bisnis media memberikan tuntutan pada pemilik
media sehingga lahirlah media yang memiliki target spesifik dalam memudahkan
pemasangan iklan di media. Iklan sangat berpotensi sebagai sarana kelangsungan
hidup suatu media.
Selain
media dampak yang dirakan perkembangannya juga merambat pada pelaku jurnalis
sehingga kini para jurnalis lebih inovatif dibandingankan dahulu kala dimana
perangkat yang harus digunakan dalam melakukan suatu wawancara atau melaksanakan
suatu liputan membutuhkan banyak perangkat seperti handphone, voice recorder,
buku tulis, alat tulis, camera person, dan seterusnya. Tetapi jurnalis modern
kini lebih terbantu dengan menggunakan satu perangkat yaitu smartphone yang
memudahkan proses wawancara maupun peliputan yang dapat dilakukan seorang
jurnalis/wartawan seorang diri saja tanpa membutuhkan pendamping dapat langsung
melaksanakan liputan secara live dengan perangkat smartphone secara online.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar