Kelompok 1

Kelompok 1
sumber gambar: static.wixstatic.com

Rabu, 21 Oktober 2015

Liputan Berperspektif Pemberatasan Korupsi



 
Sumber: http://cdn.klimg.com
          Pertemuan pada mata kuliah Kapita Selekta kali ini dibimbing oleh bapak Jimmy Silalahi yang berprofesi sebagai pengajar dan baru diangkat menjadi anggota Dewan Pers. Pertemuan kali ini mahasiswa diajak untuk menyadari betapa perlunya kita lebih sadar dengan pemberitaan mengenai korupsi. Ketidakpedulian akan tindakan korupsi pada generasi muda dapat menghancurkan masa depan bangsa dikemudian hari. Untuk dapat menjadi bangsa yang baik kita sebagai anggota didalamnya harus sadar akan pentingnya sikap bela negara dengan memperjuangkan hak-hak kita sebagai masyarakat. Lorupsi merupakan salah satu tindakan yang patut diberantas, karena korupsi merupakan tindakan yang sangat merugikan bangsa dna negara.
          Korupsi dimulai dari hal-hal kecil yang kita memang anggap remeh pada awalnya, seperti mengambilan pajak saat kita berbelanja di mall atau makan di restoran dan masih banyak hal-hal lainnya. Pajak yang diambil dari kita harusnya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan bersama bukannya untuk kepentingan oknum-oknum tertentu yang seringkali mengkorupsi uang negara dan akhirnya kitapun ikut dirugikan. Ketika korupsi di negara merajalela sulit untuk menjadikan negara ini menjadi negara yang maju, negara kaya, negara yang mengedepankan generasi muda.
          Media kini seringkali menjadi salah satu perantara yang menginformasikan kita masyarakat segala jenis pemberitaan salah satunya yang paling sering kita dengar adalah pemberitaan mengenai kasus korupsi yang seringkali hilir mudik di layar televisi, radio, surat kabar dan media online. Wartawan yang awalnya bekerja sebagai pencari informasi dan penghasil berita kini seiring berkembangnya jaman malahan makin menurun kualitasnya, hal ini dikarenakan tuntutan untuk selalu menghadirkan pemberitaan yang spektakuler tetapi belum tentu berisi.
          Hal inilah yang membuat wartawan harus lebih waspada, masyarakat kini sudah pintar, sudah dapat membedakan pemberitaan yang baik dan buruk dan sudah pandai memilih media dan pemberitaan. Oleh karena itu wartawan harus lebih baik lagi kinerjanya, seperti yang dikatakan bapak Jimmy bahwa negara bisa maju dari sebuah pemberitaan. Pemberitaan yang berbobot pastinya akan membawa naik baik suatu negara pada skala nasional maupun internasional. Sehingga wartawan harus lebih waspada, walaupun kini sudah terdapat kode etik wartawan tetapi masih banyak wartawan yang melupakan bahwan tidak menghiraukannya. Seorangw artawan yang baik harus teguh berpegang pada kode etik barubah sebua pemberitaan yang dihadirkan wartawan itu punya bobot tinggi.
Yang menjadi dilema jurnalis atau wartawan masa kini :
1.      kecepatan penyampaian berita vs kedalaman berita
2.      kelugasan penulisan vs asas praduga tak bersalah
3.      ruang privat vs ruang publik
4.      belum baca/paham kode etik jurnalistik

          Dari empat hal diatas dapat dijabarkan dari poin pertama yang biasanya terjadi di pemberitaan nusantara di salah satu statisun TV yang meliput sebuah pemberitaan heboh dan mengaku hasil video yang diberikan hasil liputan eksklusif yang ternyata malah diambil dari media sosial. Hal ini membuktikan bahwa stasiun TV tersebut berbohong dan tindakan bohong tersebut telah menghilangkan unsur kedalaman suatu berita, memang inginnya cepat menginformasikan tapi hasilnya tidak akurat.
          Kemudian poin kedua didapati pada beberapa judul pada pemberitaan atau yang seringkali dijadikan healdine sebuah media baik elektronik maupun cetak. Penulisan yang kurang sesuai dengan kode etik jurnalis dan kata-kata yang penggunaannya kurang tepat seringkali dijadikan sengketa karena dapat lulus dari pengamatan editorial sehingga dapat naik cetak bagi kasus yang ada di surat kabar. Hal ini cukup mengecewakan baigamana seringkali terjadi di tanah air kita.
          Poin ketiga membahas mengenai pembeda ruang privat dan ruang publik. Ruang privat intinya berskala kecil jadi anggotanya sedikit, sedangkan ruang publik skalanya besar lokasinya umum dan siapa saja berhak untuk masuk didalamnya. Kasusnya seperti dalam meliput sebuah pemberitaan, saat seseorang yang hendak menjadi target berada dalam ruang publik seperti di mall atau di jalanan umum maka jurnlais punya hak untuk meliput sedangkan saat seorang target itu berada dalam ranah ruang privat seperti di dalam rumah maka jurnalis tidak punya hak untuk melakukan peliputan dalam ruang lingkup tersebut.
          Poin terakhir yaitu keempat seringkali disebut sebagai kesalahan umum dimana permasalahannya ada pada individunya sendiri yang tidak tahu atau tidak mau tahu apa sih kode etik itu padahal profesinya menekankan untuk harus tahu apa itu kode etik dalam menggeluti profesinya.
Sumber: rmol.co
Analisa hadir dari sebuah pemberitaan persoalan masalah korupsi
1. Tidak berimbang
Tidak akurat, tidak melakukan verifikasi
2. Opini menghakimi  
Contoh Berita : Penanganan Dugaan Korupsi APBN Langkat Rp23,7 M Senyap, ‘KPK Harus Periksa Ngogesa Sitepu’”.
“Dugaan Korupsi Rp32,7 M Sudah Dilaporkan ke KPK, ‘Awas, Ngogesa Bisa Bernasib Sama dengan Samsul Arifin”
3. Mencampurkan fakta dan opini
Contoh Berita : “Diduga Terima Suap Rp. 30 Juta.” ; “Jeruji Besi Menanti Kedatangan Walikota Sibolga Syarfi Hutauruk”, “Copot Kajari dan Kapolres Sibolga”.
4    4. Bahasa yang bombastis, kurang memperhatikan dan memperhitungkan dampak pemberitaan
Contoh Berita : “Prett..Kibul Nomor Wahid”; “Kadistamben Kab Oku M Nasir Yazid Diduga Gorok Dana Milyaran Rupiah (www.radarnusantara.com)
      5. Konflik kepentingan. Keterangan sumber berbeda dengan yang dikutip dalam berita
Sumber: realistis.com
          Kesalahan-kesaahan dalam bentuk kesalahan teknis maupun kesalahan dari individunya itu dikarenakan ketidaktelitian dan ketidakmauan untuk maju dalam permasalahan etik. Ketika seseorang lepas dari etika maka hal ituilah yang melepaskan dia dari tindakannya dan perilakunya. Pemberitaan yang semena-mena yang hanya mempedulikan rating atau berita yang dirasa HOT saja. Hal ini membuktikan bahwa pemberitaan seringkali tidak memiliki bobot atau isi. Tidak layak untuk dijadikan bacaan dan malahan seringkali menghadirkan keraguan di ruang publik mempertanyakan kemampuan dari jurnalisme negara kita.

Sumber: prespektifbaru.com
Pembicara:
Jimmy Silalahi
 Anggota Dewan Pers

Tidak ada komentar:

Posting Komentar